Menghadapi Tantangan part 3

RBAimage013Dalam menghadapi tantangan atau cobaan kita menggunakan apa yang para ahli sebut sebagai resilience yang telah kita bahas sebelumnya. Dalam bagian ini kita akan melihat bagaimana otak kita memproses sebuah tantangan dan bagaimana kita dapat menghadapi tantangan dengan pengetahuan ini. Banyak penelitian telah dilakukan oleh ahli pikiran dan psikologi dalam bidang ini. Salah satu bagian otak yang sangat penting dalam membantu kita meningkatkan ketahanan psikologis kita adalah prefrontral cortex. Bagian otak ini sesuai namanya berada tepat dibelakang dahi kita. Ia bekerja untuk pemikiran abstrak dan melakukan analisis, termasuk mediasi dua pemikiran yang berbeda, membedakan benar dan salah dan juga mengatur kontrol atas emosi dan juga keinginan seksual kita.

Daniel J Siegel MD seorang ahli psikologi dalam penelitiannya menyatakan bahwa ada 9 fungsi dari prefrontal cortex yakni :

  1. Regulasi sistem saraf otonom
  2. Keselarasan komunikasi
  3. Keseimbangan emosional
  4. Mengatur fleksibilitas reaksi
  5. Empati
  6. Kesadaran akan diri
  7. Pengaturan rasa takut
  8. Intuisi
  9. Moralitas

Kita akan membedah kesembilan fungsi PFC (prefrontal cortex) satu persatu untuk mengerti lebih jelas hubungan mereka dengan ketahanan psikologis kita.

Regulasi Sistem Saraf Otonom

Dalam tubuh kita terdapat banyak sekali bagian yang bekerja secara otomatis, seperti detak jantung kita, pernafasan kita, sistem kekebalan tubuh kita, pencernaan dan banyak lagi. Semua itu diatur dengan sebuah sistem yang dinamakan Autonomic Nervous System atau ANS atau sistem saraf otonom. Sistem ini berfungsi untuk mengatur semua hal yang kita katakan di atas tanpa perlu bantuan pikiran sadar kita, sehingga mereka semua bisa bekerja secara otomatis tanpa perlu kita regulasi. Bayangkan betapa sibuknya kita bila kita harus ingat untuk bernafas, mendetakkan jantung, mencerna makanan, menjaga sistem imunitas kita setiap saat.

ANS dalam studi sering dibagi menjadi dua yaitu Parasympathetic Nervous System/sistem saraf parasimpatik (PSNS) dan Sympathetic Nervous System/sistem saraf simpatik (SNS). Saat kita menghadapi sebuah tantangan atau  sesuatu yang baru, SNS mengaktifkan apa yang kita sebut sebagai fight or flight response. Sedangkan saat kita santai PSNS mengaktifkan fungsi beristirahat. Anggaplah anda sedang berjalan-jalan di sebuah taman yang indah, udara begitu sejuk membuat anda merasa nyaman. Di tengah perjalanan anda melihat sebuah kursi yang mengarah pada danau yang indah. Anda pun memutuskan untuk duduk istirahat sambil memandangi alam. Dalam kejadian ini PSNS sedang bergerak, ia membuat anda dapat bersantai. Saat ini detak jantung anda melambat, tekanan darah berkurang, pencernaan anda berjalan.

Saat anda beristirahat tiba-tiba terdengar suara dari belakang. Anda pun memutuskan untuk menengok kebelakang dan anda terkejut melihat seekor beruang besar berwarna hitam sedang memandangi anda. Sambil saling menatap beruang itu membuka mulutnya dan mengangkat tangannya bersiap-siap untuk menyerang anda. Saat itupun SNS bekerja, anda saat itu dipaksa memilih untuk melawan si beruang itu atau kabur. Hal inilah yang kita sebut sebagai fight and flight response. Ia menggunakan energi anda, detak jantung dan tekanan darah anda meningkat saat itu, begitu pula energi untuk pencernaan diarahkan untuk melindungi diri secara otomatis.

Salah satu fungsi yang muncul dalam terpicunya fight and flight adalah social engagement system. Saat ini kita mencari-cari orang terdekat kita untuk mendapat rasa aman, kita mengingat orang-orang yang telah mencintai kita, mengerti kita dan membantu kita. Dengan melakukan hal tersebut kita mengingatkan diri kita bahwa semuanya baik-baik saja. Kita akan bergerak dengan cepat, lincah dan pintar untuk menyelesaikan masalah dan kembali ke kondisi normal.

Namun, bila ada kejadian yang membuat kita takut bahkan sampai menguasai social engagement system kita atau mungkin SES kita sudah melemah akibat kurang kuatnya ikatan kita. Maka SNS teraktivasi untuk menggerakkan kita namun tanpa regulasi yang cukup. Kita menjadi panik, takut, gugup dan sebagainya. Saat hal ini terjadi kita harus dengan cepat menyadari rasa takut kita lalu secara sadar mengurangi rasa takut kita dan mencari tempat atau berhubungan kembali dengan orang-orang yang dapat membantu kita baik secara fisik maupun hanya dalam pikiran kita dan saat kita masih berada dalam jendela toleransi kita, kita menyelesaikan masalah yang menimpa kita dan kembali ke keadaan normal. Bisa dibilang Social Engagement System yang dikontrol oleh PFC kita membantu kita untuk tetap dalam jendela toleransi kita.

Seandainya kita merasakan stress/ketakutan/tantangan yang melebihi kapasitas yang dapat ditanggung oleh SES kita. Maka SNS akan diaktifkan namun sayang tanpa pengaturan yang cukup. Saat itu kita menjadi gugup, tegang dan panik sehingga tidak melakukan tindakan yang bijak. Dalam keadaan ini kita harus secara sadar menurunkan kadar stress kita dan mengembalikan diri kita ke keadaan normal, baik dengan merelakskan pikiran kita atau dengan berhubungan dengan orang-orang yang kita percayai, sehingga mengaktifkan PNS dan mengembalikan kita ke jendela toleransi di mana kita dapat berpikir jernih dan bertindak dengan bijak.

Sebaliknya bila kita dalam keadaan sangat relaks seperti saat kita berada dalam meditasi dalam atau tidur, PNS berjalan tanpa adanya ketakutan. Keadaan ini merupakan keadaan yang sangat menyenangkan, akan tetapi bila keadaan ini tidak diimbangi dengan SNS dan SES yang cukup, maka kita bisa saja jatuh ke dalam depresi, pemisahan diri, lesu, dan lainnya. Kita perlu Prefrontal Cortex untuk memberikan gas kepada SNS dan SES agar kita dapat menghadapi tantangan dengan tenang.

Windalfin, MBA, CH, CFP

Consultant

 

 

 

Trackbacks/Pingbacks

  1. 3 hal yang membuat anda semakin bahagia | INDOMIND CONSULTING - February 12, 2014

    […] bahwa manusia adalah makhluk sosial dan ini adalah hal yang sangat benar. Bila anda membaca artikel menghadapi tantangan 3 anda akan mengetahui bahwa seorang manusia sangat bergantung kepada orang lain untuk dapat memiliki […]

  2. 5 Tips Mengatasi Putus Cinta | INDOMIND CONSULTING - July 16, 2014

    […] artikel sebelumnya tentang resilience (menghadapi tantangan part tiga) kita membahas bagaimana keluarga dan orang yang dekat dengan kita akan mengaktifkan Social […]

Leave a Reply