Optimis vs Pesimis

“Apa yang Anda percayai dalam pikiran kemungkinan besar akan menjadi kenyataan”.

Seorang karyawan duduk di atas kursi kayu di sebuah kafe kecil yang bernuansa koboi. Sambil memesan minum pada pelayan, ia pun memberanikan diri bertanya “Hai, saya baru pindah ke kota ini, saya ingin tahu seperti apa sih orang-orang di kota ini?”

“Memangnya seperti apa orang-orang di kotamu yang sebelumnya?” tanya pelayan tersebut.

“Tidak terlalu baik” ungkapnya, “bahkan, mereka orang-orangnya sangat tidak sopan.”

Pelayan menganggukan kepalanya dan berkata, “Sayang sekali, Anda akan menemukan orang-orang di kota ini juga seperti itu.”

Orang kedua juga duduk di sebelah orang sebelumnya, sambil memesan minum ia bertanya pada pelayan “Hai, saya baru pindah kesini, orang sini baik-baik gak?”

“Apakah orang-orang di kota sebelumnya baik-baik?” tanya pelayan.

“Wah, tentu saja, saya datang dari tempat yang luar biasa, semua orang disana baik-baik, sungguh sulit untuk pindah dari lingkungan baik seperti itu.” ungkapnya penuh semangat.

“Oh, Anda akan menemukan bahwa orang-orang di sini juga seperti itu.”

Mendengar hal tersebut orang pertama marah dan bertanya kembali pada pelayan, “Jadi sebenarnya orang-orang di kota ini bagaimana sih?”

Pelayan tersebut tersenyum dan berkata “Saya tidak tahu, semua itu masalah persepsi, Anda akan menemukan bahwa apa yang Anda pikirkan menjadi kenyataan.”

Menjadi OptimisOptimis vs Pesimis

Apakah gelas Anda setengah penuh atau setengah kosong? Apakah Anda mencintai pekerjaan Anda sehingga hal-hal kecil yang mengganggu tidak membuat Anda membenci pekerjaan tersebut?

Seorang yang pesimis akan melihat hal buruk di antara segala hal baik yang terjadi pada dirinya. Mereka membuat setiap keadaan yang mereka hadapi menjadi buruk. Untuk dapat mencapai kesuksesan, seorang pesimis harus mencari jalan keluar dari semua keburukan dunia ini.

Seorang optimis berpikir bahwa jalan menuju sukses adalah sebuah jalan yang penuh rintangan, akan ada saatnya naik, akan ada saatnya turun. Akan ada hal yang baik, akan ada hal yang buruk. Namun, mereka yakin selama mereka tidak menyerah dan terus maju sambil mengambil pengalaman dari kegagalan sebelumnya, pada akhirnya mereka akan sampai ke tujuan mereka.

Pada kenyataannya baik pesimis maupun optimis keduanya mampu mencapai kebahagiaan. Optimis dan pesimis pada kenyataannya tidak berhubungan dengan tingkat kebahagiaan seseorang. Florence Littauer dalam bukunya personality plus berpendapat bahwa seorang pesimis (melankolis dan phlegmatis) mampu melihat masalah atau kelemahan dari suatu keadaan yang sering dilewatkan oleh mereka yang optimis (koleris, sanguinis) sehingga membantu dalam penyelesaian masalah.

Kembali ke hukum pikiran “apa yang anda percayai, kemungkinan besar akan terjadi”. Dari hal ini tentunya kita tahu bahwa kita sebaiknya optimis daripada pesimis. Albert Bandura, salah satu bapak psikologi dunia, menyebutkan bahwa “penentu terbesar dari sukses atau tidaknya seseorang adalah apakah mereka percaya mereka akan sukses atau tidak”

Yang perlu kita perhatikan adalah membedakan apakah kita percaya bahwa kita akan sukses atau percaya bahwa kita akan sukses dengan mudah. Atau bisa dibilang apakah anda seorang realistic optimist ataukah unrealistic optimist.

Menjadi Seorang yang Optimis

Seorang psikolog Gabriel Oettingen bertanya pada sebuah grup wanita yang mengalami obesitas dan sedang menjalani program penurunan berat badan. Ia menemukan bahwa wanita yang optimis akan berhasil ternyata secara rata-rata berhasil mengurangi 13 kilo lebih banyak daripada mereka yang pesimis.

Oettingen bertanya lagi pada mereka apa ekspetaksi mereka pada awalnya tentang perjalanan menuju berat badan ideal mereka ini. Ternyata mereka yang berpikir bahwa mereka akan sulit untuk tidak menahan nafsu untuk makan, mereka akan malas untuk berolah-raga. Ternyata mereka yang optimis dan realistis mengurangi berat badan 13 kilo lebih banyak dibanding mereka yang merasa mereka akan mampu mengurangi berat badan dengan mudah.

Percaya bahwa jalan mencapai sukses penuh dengan lubang dan bebatuan, bahkan mungkin becek dan banjir, akan membawa diri kita lebih sukses karena mereka memaksa kita untuk bertindak. Kesuksesan seseorang tidak ditentukan oleh apakah mereka pesimis ataupun optimis, kesuksesan seseorang ditentukan oleh tindakan mereka atas keadaan mereka.

No comments yet.

Leave a Reply