Pembuat Roti yang Kelaparan

Bread

Tidak lama yang lalu saya berbincang dengan seorang teman, ia memberitahu bahwa ia sudah mulai lelah. Ia seringkali membuat orang lain senang, melakukan banyak hal untuk membuat semua orang senang. Ia menyenangkan ibunya dengan melakukan apa yang beliau inginkan. Ia menyenangkan pacarnya dengan membantu pacarnya terus menerus. Setelah beberapa tahun melakukan hal ini akhirnya ia memutuskan bahwa ia sudah muak. Ia tidak mau lagi melakukannya. Sebenarnya apa yang terjadi di sini? Kenapa walaupun ia membuat orang lain bahagia, ia sendiri muak?

Untuk menjawab hal ini saya akan menceritakan sebuah cerita

Di suatu desa kecil di Eropa tinggal seseorang yang bernama Bill.  Ketika itu ada resesi di Eropa yang menyebabkan ia kehilangan pekerjaannya. Bill lalu jatuh putus asa dan tabungan yang sudah ia simpan secara perlahan mulai menipis. Keputusasaannya ini seringkali ia lampiaskan dengan cara membuat roti yang selalu ia sajikan ketika teman-temannya datang berkunjung. Ketika disajikan roti, teman-temannya selalu mengatakan bahwa ini adalah roti yang terenak yang pernah mereka makan. Kebaikan Bill lalu dibalas oleh teman-temannya sehingga Bill diberikan toko roti oleh mereka supaya ia bisa kembali bekerja.

Ketika ia pertama kali membuka toko, tidak sedikit orang yang datang untuk membeli roti buatannya. Mereka selalu berterima kasih karena bisa memakan roti yang begitu enaknya. Hanya beberapa bulan saja toko roti kecil ini mulai menjadi terkenal dan antrian toko menjadi semakin panjang. Tidak jarang juga berbagai orang dari luar kota datang hanya untuk mencicipi roti buatan Bill yang sangat terkenal ini. Tentunya Bill merasa sangat senang dan setiap sore, ketika masih ada roti sisa di tokonya, ia selalu memberikannya kepada orang-orang miskin yang ada di desa tersebut. Bill tidak pernah merasa kekurangan, ia begitu bahagia bisa membuat roti enak yang disukai oleh banyak sekali orang.

Pada suatu siang yang terik, baru saja tiga bulan setelah Bill membuka toko roti, Bill pingsan dan harus dilarikan ke unit gawat darurat. Semua teman-temannya sangat kaget mendengar hal ini dan langsung bergegas ke rumah sakit. Sesampainya mereka di sana, ternyata ditemukan bahwa Bill terkena penyakit lambung akut. Penyakit ini disebabkan karena Bill seringkali tidak makan supaya bisa membuat dan juga menjual roti, terutama ketika tokonya ramai di siang hari.

Bukankah ini suatu hal yang ironik? Bagaimana seorang penjual roti bisa menjadi kelaparan? Bagaimana seseorang yang terus membahagiakan orang lain tidak bahagia? Ada orang bijak yang mengatakan, “Cintailah orang lain seperti engkau mencintai dirimu sendiri.”  Ingat bahwa kata-kata ini mengatakan “…seperti engkau mencintai dirimu sendiri.” bukan, “lebih dari engkau mencintai dirimu sendiri.” Untuk bisa membuat orang lain “kenyang” maka Anda sendiri harus “kenyang” terlebih dahulu. Jika Anda ingin orang lain bahagia, Anda harus “bahagia” terlebih dahulu. Dengan menjadi bahagia, Anda tidak akan pernah letih atau muak. Janganlah menjadi seperti sang pembuat roti yang kelaparan

No comments yet.

Leave a Reply