Satu Hal Paling Penting Supaya Anak Terbuka

Kenapa banyak anak tidak mau terbuka kepada orang tuanya? Bagaimana supaya anak terbuka pada orang tua dan menceritakan masalah yang mereka alami? Banyak orang tua yang mengeluh bahwa anaknya tertutup dan tidak menceritakan masalah yang sedang terjadi di dalam dirinya. Tentu semua orang tua ingin anak terbuka pada diri mereka dan menceritakan semua masalah yang terjadi pada diri mereka. Hal ini bisa dilakukan pada anak segala umur, akan tetapi akan lebih efektif jika diterapkan sejak dini.

Anak Terbuka

Saya mempunyai teman, kita sebut saja Bob, yang mempunyai anak perempuan berumur tujuh tahun bernama Christine. Beberapa tahun yang lalu, Bob membelikan ikan untuk anaknya. Pada suatu hari Christine bangun dan menemukan bahwa ikan peliharaannya sudah mati. Kematian ikan yang tiba-tiba ini membuat Christine sedih dan lalu melaporkannya kepada Bob. Setelah melihat itu, Bob menjelaskan bahwa semua makhluk pasti pada akhirnya akan mati. Itu adalah siklus kehidupan. Kita akan lahir, tua, dan mati. Bob juga berjanji akan mengubur ikan itu bersama-sama. Christine lalu kembali ke dalam kamarnya tanpa mengatakan apa pun.

Apa yang dilakukan Bob sudah benar? Kenapa Christine tidak mau terbuka dalam menceritakan apa yang ada di pikirannya? Dalam kasus ini, Christine melihat ayahnya tidak sedih sama sekali sedangkan dirinya merasa sangat sedih. Ketika hal ini terjadi, Christine bisa merasa ada yang salah di dalam dirinya. Walaupun itu adalah kesempatan yang penting untuk belajar, akan tetapi Christine belum mempunyai cukup kedewasaan untuk menerima bahwa ikan peliharaannya mati secara tiba-tiba.

Peran Empati

Orang tua seringkali mengatakan bahwa anak sudah harus diajarkan menjadi lebih dewasa bahkan pada saat masih kecil. Sebenarnya yang harus dilakukan Bob adalah memberikan empati kepada anaknya. Mungkin Bob bisa berkata, “Pasti kamu merasa sedih ya. Tidak apa-apa jika kamu ingin menangis.” Lalu Bob bisa memeluk Christine dan membiarkan Christine menangis di dalam pelukannya. Setelah itu mungkin Bob bisa bertanya kenangan apa yang paling diingat Christine ketika ikannya masih hidup. Dengan melakukan hal ini, Christine tidak hanya kembali ke kamarnya untuk menangis, akan tetapi Bob jadi bisa lebih mengerti apa yang dipikirkan anaknya dan juga bisa mengajarkan pelajaran yang berarti.

Bukan hanya dalan situasi seperti ini saja anak bisa menjadi lebih banyak berbicara dan belajar, akan tetapi juga dalam situasi sehari-hari. Kita ambil contoh lagi Bob bersama dengan Christine. Kali ini Christine pulang sekolah, terlihat kesal dan tidak mau makan. Bob mengatakan pada Christine kalau makan itu penting untuk hidup dan ia harus tetap melakukannya. Christine pun makan masih dengan perasaan kesal.

Akan tetapi setelah diajarkan untuk memberikan empati, teman saya Bob ini berkata, “Christine, papa tahu sekarang kamu sedang merasa kesal.” Setelah mengatakan hal ini, Christine langsung menangis dan menceritakan kepada ayahnya bahwa di sekolah ia tidak diajak oleh temannya untuk bermain. Bob pun tetap diam dan hanya meminta Christine untuk menceritakan lebih lanjut dan bertanya kira-kira apa yang harus dilakukan besok. Secara mengejutkan Christine menceritakan semuanya kepada Bob dan bahkan ia mengatakan bahwa mungkin ia tahu alasannya dan akan menyelesaikannya sendiri.

Tidak lama setelah hal ini terjadi, Bob menghubungi saya dan menceritakan kepada saya bahwa hanya memberikan empati atau memberikan label pada apa yang dirasakan anaknya memberikan efek yang sangat besar dalam hubungannya dengan Christine.

,

No comments yet.

Leave a Reply